Bukan Salah Cinta '4'

Part 4 # Kejanggalan

 

 “Tuh kaan…gak ada apa-apa disini.” Aku menghela nafas.

Benar-benar menyebalkan. Ia pikir aku akan tertipu dengan lelucon murahan seperti itu. Entah apa maksudnya mempermainkanku seperti ini. Tapi, yang jelas aku lega sekali. Tak ada apa-apa disini. Karena jika memang terjadi sesuatu, aku tak akan bisa lagi melewati jalan pintas yang menjadi andalanku -jika aku terlambat ke sekolah-.Hiks.

Sepuluh meter lagi, aku sampai dibelokan gang P.Prikom Blok B. Setelah belokan, sekitar lebih kurang seratus meter, gang tersebut sudah tuntas aku lewati. Dan selama aku berjalan melewati gang tersebut, aku tetap harus berhati-hati dan melihat sekelilingku. Tetap waspada jika memang ada bahaya yang akan menimpaku. Namun, sampai saat ini tak ada tanda atau sinyal-sinyal bahaya yang aku temui.

 

“Ra…”

Boom!

Aku terhenyak.  Suara seseorang memanggilku, dan tiba-tiba saja ia sudah berdiri dibelakangku. Memegang ranselku dan menghentikan langkahku.

Oh Tuhan, Rasanya jantung ini ingin melompat dari tubuhku.

“Aku udah bilang kan. Disini bahaya…”

Deg

Jantungku berdebar kencang.

Berlahan kupalingkan wajahku ke belakang. Dan…

“Bang…Dzikry?”

Memang benar, Bang Dzikry.

Ia melepaskan tangannya dari ranselku. Akupun meliriknya. Dan ia pun melirikku.

Deg.

Reflek saja aku membalikkan badan.

Astaga…

 Ku pejamkan mataku.Tak kuasa memandang matanya yang indah. Namun tetap saja, kelopak mata ini tak mampu menutupi bayangan matanya dan itu tergambar jelas dibenakku. Bodinya yang tinggi dan wajah teduhnya yang gagah membuat jantungku berdetak tidak normal. Seperti inikah tampangnya dari dekat? yang selama ini hanya bisa kupandangi dari jauh. Jaket dongker yang ia kenakanpun membuat tubuhnya semakin atletik. Bulu matanya yang tebal dan alis matanya yang hitam..Astagfirullah Ra…what are you thinking? Ku gelengkan kepalaku. Mengusir setan yang mulai mengelabuhi  pikiranku. -Awas kau setan…-

Akupun mundur selangkah menjaga jarak darinya.

Ia hanya diam dan menatapku.

Hening.

Dan..

“Balik…” Ungkapnya.

“Hm?” akupun meliriknya.

“Balik lagi…” Ia memberikan isyarat agar aku berbalik arah lagi menuju gang dekat sekolahku.

“Balik?” tanyaku heran.

“Udah dibilang kan. Disini bahaya…” ia mengulangi kata-kata itu.

 “Tapi gak ada apa-ap..pa kog…di..si…ni…”. Ucapanku terhenti. Tatapan matanya yang penuh makana namun teduh itu membungkam mulutku. Tanpa bertanya lagi, akupun berbalik arah.

Tatapan nyaa… bisa biasa aja gak? Jantung gue udah mau copot tau. Dan… Apanya yang bahaya ? gak ada apa-apa kog disini..Itu gang padahal dikit lagi nyampe jalan Raya dan deket lagi nyampe rumah rumah guee. Kenapa harus balik..Hiks

 

Lima menit berlalu.

Tak satupun kata yang keluar dari mulutku ataupun mulutnya. Hening. Tapi otakku tak bisa berhenti berfikir. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ku tebak jawabannya. Apa yang dia lakukan? Kenapa? atau…atau ini hanya modus agar ia bisa bertemu dan bertatap muka denganku?. Terlalu kepedean.

Deg

Deg

Berlahan ku paling wajahku ke belakang.

Astaga!

Ia tepat satu meter dibelakangku.

Oh jantung detaknya biasa aja dong..pliss

Ehm.

Gak bisa kayak gini.

Tanya aja Ra, lo bisa..

 “Ehm…Bang Dzikry…darimana… tau.. nomorku?” tanyaku mencoba to the point.

Namun, tak ada jawaban.

Duuh..terlalu to the point ya?

 Hmm..kenapa disini bahaya?” Aku bertanya lagi.

Hening.

Tetap tak ada jawaban.

Gak dijawab juga?

Tahaan…

“Em..Apa maksud sms itu?”

Lagi lagi hening,

Ia tetap diam dan terus mengikutiku dari belakang.

Akupun berbalik arah.

“Kenapa gak jawab? Apa yang….Aaah!”

Aku hampir menabraknya. Reflek saja tangannya mengambil ransel yang ia kenakan kemudian menaruhnya di depan dadanya dan mengenai wajahku.

“Haduh”

“Sorry…” ucapnya sambil meletakkan tasnya ke posisi semula.

 “Kamu gak pa pa?” Ia menatapku.

Ya Allah….

Deg.

Sosorry.” Aku mengusap keningku.

Ia kemudian melangkah ke sisi kiri dan berjalan mendahuluiku.

“Cepat pulang..” ucapnya tanpa mengacuhkan kejadian itu.

“Iy..iya.”

 

.

.

.

20 menit berlalu.

Akupun sampai di gerbang rumah. Ku hentikan langkahku dan berdiri sejenak. Tanpa berfikir panjang aku berbalik arah menatap Bang Dzikry yang berdiri cukup jauh dariku.

Ia mengantarku sampai rumah…

“Terima ka…”

Ia pun pergi tanpa menghiraukan rasa terima kasihku.

Ish…aneeh.

Hhhm.

Aku  menghela nafas panjang. Bayanganya pun kian lama kian menghilang. Akupun juga beranjak menuju pagar rumah dan meluncur ke singgana tempat bersemayamku.

“Aku pulang!”

 

 

 

 

***

 

Tengah malam..

02.59 wib

-------------------

    “Zakiya.Kenapa papa ngasih kamu nama itu?”

Kenapa pa?

Karena nama itu....”

….

Aku tersentak. Nafasku terengah-engah. Ku lirik ke seluruh ruangan. Sunyi dan gelap.

“Aah…mimpi.”

Aku pun duduk. Mengusap keningku yang berkeringat.

Mimpi ya? Gak biasanya..

Aku kemudian beranjak keluar kamar menuruni tangga menuju dapur. Membuka lemari es dan meneguk segelas air putih.

“Huaahm..It’s oke. Cuma mimpi.”

 

 

***

 

 

Keesokkan pagi…

06.58 WIB.

“Aaaaa!! Pokoknya gak boleh telaat…” aku berlari mengambil sepatuku dan bergegas menuju sekolah.

“Haduuh…Bang Gojeek..muncul dong pliss…lama amaat. Mana si Raja (Adikku) duluan ke sekolah lagi. Tega banget ninggalin aku. Rese. Mentang-mentang gak ada papa dan mama dirumah…” omelku sambil melirik jam tanganku yang hampir menunjukkan pukul 07.00 wib.

“Haduuh…jalan kaki aja.” Aku pun berjalan dengan cepat.

__

 “Oh tidaak…10 menit lagi. No. Gue harus jalan pintas.” Ku langkahkan kakiku dengan cepat. Menelusuri troktoar yang dipenuhi pejalan kaki. Tak lama kulihat gang andalanku yang menghubungkan gang tersebut dengan gang dekat sekolahku, gang P.Prikom.

“Ohh..gang..penyelamat hidupku.” Akupun mulai berlari.

Namun tak lama kaki ku terhenti.

Jangan lewat gang P.Prikom.

Pikiranku kembali teringat pesan itu.

“Haduuh…” Aku memukul jidatku.

Gak boleh lewat sini ya? Gimana dong….

Loh?

Ngapain juga gue percaya kalo gang itu bahaya…

Buktinya kemaren gak ada apa-apa tuh…

Aah..sudahlah Ra. Kenapa lo mikirin sesuatu yang gak jelas kebenaranya sih. Hoax itu..hoax. Sekarang yang mesti lo pikirin adalah gak boleh telat ke sekolah. Oke .” Ungkapku kesal. Ku langkahkan kakiku lebih cepat lagi. Aku pun berlari..berbelok menelusuri Gang tersebut.

“Astaga!!”

Kakiku langsung membeku.

Tepat di depanku berdiri sosok lelaki mengenakan sweater abu-abu, memakai tas selempang hitam dan bersandar di dinding gang tersebut.

“Bang Dzikry.”

Ia pun bangkit dari sandarannya. Kemudian mendekatiku.

 “Harus berapa kali dibilangin? Gang ini bahaya...” Ungkapnya dengan wajah datarnya.

Huufh..jantung..tenang...

 “Ak..aku udah telat ke sekolah. Lagian lewat sini gak sampe 10 menit kog. Ga bakalan kenapa-kenapa.”

“Naik mobil...” ia menujuk mobilnya yang terparkir di persimpangan gang.

“Hm?”

Ia beranjak menuju mobilnya dan membukakan pintu depan.

Aku melongo.

“ 7 menit lagi gerbang sekolah tutup...” Ungkapnya melirik jam tangan yang ia kenakan.

“Ah..iya.”

Aku berlari memasuki mobilnya.

 

 

 

-------

 

 

 

 

Diparkiran sekolah…

Tepat pukul 07.15 WIB, bersamaan dengan bel masuk berbunyi.

“Teeeet…”

“Huufh… ” Aku menghembus nafas lega.

Yes..gak telat.

Berlahan ku lirik Bang Dzikry yang masih terdiam dibangku setirnya.

“Ehm..Makasih…” Ungkapku.

Namun ia tak menjawab.

Deg. Duuhh..diam lagi..

“Hm..Bang Dzikry, aku duluan ya…”

Aku pun bergegas mengemasi ranselku dan membuka pintu mobil.

Namun,…

Lho?

Pintu mobil tak bisa dibuka.

Kog gak bisa dibuka?

Ku coba buka lagi.

Tetap tidak bisa dibuka.

Aku pun meliriknya.

Ia hanya diam.

Gak….

Sekali lagi ku buka namun sia-sia.

Pintunya terkunci.

Bukan. Bukan terkunci, namun dikunci.

Gak mungkin...

Gak mungkin…

 “Ra…”

“Ya?” aku terhenyak namun berusaha bersikap tenang.

Akupun meliriknya.

Ia kemudian menatapku lebih dekat.

Ya Tuhaan…

“Jangan lewat gang itu lagi, ya?”  Ungkapnya lembut.

Deg.

“Iya.”

 

 

 

***

 

 

 

Di kelas…

 

“Dara?”

“Daraa.”

“DARAA!!”

“Astagfirullah.” Bapak Jarot membunuh lamunanku. Semua teman-temanku termasuk Dina pun tertawa.

“Apa yang sedang kamu pikirkan Daraa?. Sebagai Anaak Muda yang bertalentaa tidaak seharuusnyaaa kamuu melaamun dikelaas!!!. Sebagai hukumaan karenaa kamu melamun dan terlambaat masuk kelas 1 menit 36 detiik, kamuu harus membuat 2 lirik laguu Religi dan haruus siaap mingggu depaan. Karena kita akan menampilkannya di Pagelaran seniii yang akan diadakan 3 bulan ke depan. Okee??” Pak Jarot mengacungkan jempol.

“Oke Pak!” jawab semua temanku serempak.

“Arrg..Sialaan lo semuaa.” Bisikku menatap tajam mereka satu persatu.

“Hahaha”. Mereka hanya tertawa.

 “Gak bisa gitung dong pak. Masa saya aja yang kena? Kan si Jokki juga telat. 5 menit 59 detik lagii. ” Ungkapku kesal.

“Jokki Sudaaah Bapaak Kasiih Hukumaan yang pantaas. Dan untuk kalian semua selain Daraa. Kalian bapak tugaaskan masing-masiing kelompokk uuunttukk membuaat Dramaa Musikaaal yang harus ditampilkan dipentas drama musikal bulaan deepaan. Tiitiik. Tidakk pakaai komaa. Oke?” Ungkap pak Djarot sekali lagi dengan acungan jempolnya.

“Haha.Siap Pak.” Akupun mengacungkan jempol.

“Yaaaah. Bapaaak.” Keluh mereka semua.

Aku pun tertawa (Sendiri).

 

 “Teeeet…”

“OKeeh. Selamat Beristirahat!”

 

 

 

 

***

 

 

 

Jam istirahat…

“Kenapa lagi lo Ra?” Tanya Dina yang selalu asik memakan bekal yang ia bawa dari rumah.

“Gue stress nih.” Jawabku kesal. 

“Hhhm..” Dina hanya menghembuskan nafas panjang.

“Sana gih istirahat. Tenangin itu pikiran lo. Jangan kebanyakkan mikir yang gak seharusnya lo pikirin. Dan jangan terlalu banyak ngeladenin pasien lo. Lo juga pasien. Pasien riwayat penyakit gentayangan karna rasa penasaran lo yang akut.”

“Makasih atas pengertiannya Dear. “ aku mencium keningnya.

“Sialan lo…Gue serius gak nyindir loh” ia mengusap kepalanya.

“Bye…” ungkapku acuh dan berlalu menuju UKS.

----

 

Di UKS..

Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur dan mencari posisi senyaman mungkin. Aah, tidak ada tempat yang benar-benar nyaman selain disini. Ku pejamkan mata dan ku halau memori-memori yang tak ingin ku pikirkan saat ini .

 

“Ra..”

Astaga. Apakah ini yang namanya penderitaan?

Kapan gue bisa hidup tenang ya Allah…

Di dibalik tirai tempat tidurku, seseorang memanggilku.

“Ra..”

CK!” Ku tutup gendang telinga ku serapat mungkin.

“Ra..”

“Arrgh... ” Gumanku kesal. “ Gak ada tempat buat ngedamaiin jiwa gue ya Tuhan. Hiks”

“Ra..”

“ Lo bisa diam gak sih.” Kupingku mulai panas.

Aku pun bangkit kemudian ku kibas tirai pembatas disisi kananku. Tirai yang membatasi tiap-tiap ranjang tempat tidur di ruang UKS itu.

 “Hai…” Ia melambaikan tangannya padaku.

“Hobbi lo bisa diubah gak sih? Jangan suka gangguin hidup orang. Atau lo udah doyan ya? Ngusik orang.”

“ Dikit.”

“Plis Lang. Gue mau istirahat. Capek nih. Gak mau denger ocehan lo. Mau ada Hot news kek, Badnews kek, atau siapapun kek, gue ga peduli. -Karna gue masih deg deg an dengan kejadian pagi tadi-Simpan aja dulu. Oke.” Aku kembali merebahkan badanku. Mengambil selimut dan menutup wajahku.

“Hmmm…” Galang berlagak berfikir keras.

“Go go..” Ku kibaskan tanganku mengusirkanya.

Namun ia tak bergeming.

“Serius nih gak mau denger? Ini Double hot news parah loh. ” ungkap galang dengan intonasi yang sedikit mencurigakan.

“Itu intonasi lo biasa aja kali Lang. Jangan kayak abis nangkap informasi tukang maling yang ke tangkap basah ama ceweknya.”

“Emang iyaa.”

“ ? ”

“Ketangkap basah kalo elo ke sekolah bareng Bang Dzikry.”

“HAH?!” Reflek, akupun langsung bangkit.

“Ketangkap basah kan lo. Haha” Ungkapnya tertawa dan menujukku penuh kemenangan.

“Sssttt.. Jangan keras-keras.” Ku lirik keadaan disekitarku. Aku pun berjalan menelusuri setiap ruang UKS. Tak ada orang kecuali petugas yang sedang asik membereskan obat-obatan di ujung ruangan. Hufh. Perasaanku sedikit lega karena tak ada orang lain yang mendengar. Namun belum cukup lega menghadapi satu orang yang rese ini. Galang. Yah, sahabat reseku semenjak junior high school. Dari kecil kami sudah dekat, karena orang tua kami bersahabat. Saking dekatnya hingga rumahku sudah seperti rumahnya sendiri. Namun semenjak orang tuanya pindah ke luar negeri dan tak ingin ikut orang tuanya, ia terpaksa tinggal dirumah pamannya yang cukup jauh dari sekolah. Semenjak itu juga, ia sudah jarang mengunjungi rumahku. Memang ia adalah the best partner kalo sudah menyangkut masalah atau yang berbau psikologi karna ia juga memiliki hobbi yang sama denganku. Resenya dia adalah rahasia apapun yang aku sembunyikan darinya, tak akan pernah menjadi rahasia karena selalu diketahui olehnya. Contohnya saja seperti saat ini.

“ Ciee si Bos Psiko udah naik pangkat nih sekarang.” Ia tertawa sumringah.

“Naik pangkat apanya?” ucapku kesal.

“Udah bisa gandengin cowok.” Ia tertawa lepas.

Akupun mengambil tangan mannequin yang terpampang ria di samping lemari obat. Dan mengayunkan tangan tersebut pada Galang. “Diam gak!”

“Oke siip.”

“Huufh... lo kalau tau gue bareng dia ngapain gak nolongin gue sih.” Aku menghembuskan nafas panjang. Kejadian kemarin dan pagi ini cukup membuatku berdebar.

 “What? Nolongin lo? Emang lo diapain ama dia..?” Tanya Galang bingung.

Mati gue. Ngomong apa sih gue? Galang bakal mikir yang bukan-bukan.

“ Maksud gue, kenapa lo gak “ngomong” ke gue sih. Kalo elo liat gue bareng dia ke sekolah.”

“ Yaah…ini mau ngomong buk. Tapi elonya aja yang gak mau denger. Katanya sih whatever if hot news lah or about him I don’t care lah… I want to sleep lah.” Ucap galang menyindirku.

“Oke, You win.  Lo bener-bener liat gue tadi?” tanyaku serius.

“Gue cuma liat mobil terakhir yang masuk gerbang sekolah sih. Tau-taunya elo muncul dari parkiran. Eh, beberapa menit kemudian Bang Dzikry juga muncul. Yah, gue cuma mikir kenapa lo bisa muncul barengan. Dan sebenernya gue cuma mau nanya sih. Eh, taunya bener kan. Dari ekspresi lo aja, lo udah ketangkap basah. Mampus lo..”

Jitak!

“Aww. Gila. Gue dipukul ama psiko…psikopat.” Ungkapnya menjauhiku sambil mengusap-usap kepalanya yang aku pukul pake tangan mannequin.

“ Pardon me? Psikopat?”

“Ampun Bos. You win.” Ia mendekatiku kembali. Seperti biasa. Ia ingin menyampaikan sesuatu padaku.

“So, Hot newsnya apaan?” Tanyaku serius.

“Lo tau gak. Gue rada-rada shock sih, tau lo bareng ke sekolah ama dia.”

“Iya gue juga. Ntar gue certain deh. Lanjut dulu…”

“Lo tau gak…”

“Gak tau gue..”

“Yee..sabar woi.”

“Hehe... Apa?”

“Selama ini. Bg Dzikry gak pernah deket sama cewek manapun termasuk temen ceweknya yang osis. Dia selalu jaga jarak ama cewek. Siapapun and dimanapun itu. Dan lo tau, dia juga dikenal sebagai cowok yang religius banget di angkatannya. Rajin Dhuha juga orangnya. Gue pernah liat dia shalat dhuha waktu gue ke masjid sekolah buat shalat dhuha juga.”

“Lho shalat dhuha?”

“Yah..kan ngambil nilai mata pelajaran agama…”

“Kalo itu gue percaya. Trus…”

“Trus, denger-denger. Kakak Ryana juga pernah nembak dia. Tapi di tolak. Lebih tepatnya di “diamin” aja sih gak dijawab tuh.”

“Serius lo? Kak Ryana nembak cowok?”

“ Tigarius gue.”

Aku terdiam. Tepatnya sedikit terkejut mendengar Kak Ryana menyatakan perasaannya pada Bang Dzikry. Yang aku tahu kak Ryana adalah sosok senior kelas XII Unggul yang sangat disegani bahkan cowokpun gak sanggup deketin dia. Karna selain pintar, dia juga model majalah RealStyle yang cukup terkenal di kotaku. Bahkan kecantikkan dan kesopanannya pun juga disambut baik oleh salah seorang sutradara yang cukup terkenal sehingga tak diragukan lagi ia juga bakal direkrut membintangi salah satu film. Sungguh tak disangka Kak Ryana menyatakan perasaanya. Dan lebih mengejutkan lagi Bang Dzikry tidak menerimanya.

“Woi buk. Ngelamun dia.” Galang melambaikan tangannya  ke wajahku.

“Gue lagi mikir nih.”

“Mikir apaan? Malahan gue yang harusnya mikir. Kenapa lo tadi bisa barengan ama dia? Padahal gue tau lo gak pernah kenal dia sebelumnya. Gue tau lo orangnya penasaran. Tapi sebelumnya gue gak pernah liat lo se nekad ini sampai bisa bareng ke sekolah segala. Lo emang selalu bikin gue speechless deh Ra. Atau karna lo udah dewasa kali ya jadi lo udah berani deketin cowok selain gue. Dulunya kan lo kuper banget.”

“Mau dua kali gue jitak.” Sekali lagi ku ayunkan tangan mannequin padanya.

“Ups. Sorry Bos. U can’t fool me dengan cara yang sama.” Ia berhasil mengelak pukulanku.

“Nyerah deh gue sama lo.”

“Nah gitu dong.”

“Tapi gue serius lang. Gue bakal cerita ke elo, Tapi gak sekarang. Dan gue mohon, jaga rahasia ini, termasuk sama Dina. Ada saatnya gue bakal cerita ke dia. ”

“Sip. Tapi kapan lo bakal cerita? Lu kan suka pending cerita lama banget, se abad.”

“Nanti ke rumah gue deh.”

“Shiaap.”

“Tapi gue nebeng mobil lo yah. Mobil gue diculik adik gue. Gue juga free belajar sore sekarang.”

“Makanya jangan suka molor…kerjaan lo emang suka telaat. Kalo gak telat hidup lo gak tenang.”

“Sini lo gue cubit.”

“No muhrim cuy.” Ia pun lari menuju kelas.

Yah, begitulah si Galang. Walaupun kami dekat, setelah beranjak remaja kami tak pernah bersentuhan. Ia pun menjaga batasnya sesuai dengan yang diajarkan agama kami, Islam. Jika ia ke rumah pun, harus ada Raja, adikku. Ia tak mau berdua-duaan denganku walaupun sebenarnya tidak bedua karena ada Mpok Dide pembantu rumah dan Pak Ramah Satpam rumahku.

.

 

Pulang Sekolah…

Semua anak sudah menghilang dari radar sekolah. Aku seorang diri menunggu Galang di Parkiran. 10 menit berlalu Namun galang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Aku pun beranjak menuju gazebo yang tak jauh dari parkiran. Sambil menunggu, ku sandarkan badanku dan melihat-lihat lingkungan sekolah. Ternyata dari gazebo bisa terlihat seluruh bangunan kelas di tingkat dua. Sekolahku dibangun dua tingkat dengan halaman yang cukup luas. Dari depan gerbang akan langusng disambut oleh lapangan basket dan parkiran yang cukup luas.

Namun seketika…

Pandanganku terhenti…

HAA?

mataku terbelalak.

“Astaga…” aku membungkam mulutku dengan kedua tanganku.

Aku ingin berteriak..namun suaraku bungkam.

Jantungku mulai tak karuan. Tanganku mulai bergetar.

Namun aku terus memperhatikan.

Disudut ruangan tingkat dua, tampak seseorang menggoreskan pisau ke kening seorang lelaki yang baru ku temui tadi pagi,…yah Bang Dzikry. Tetesan darah dikeningnya pun mengalir membasahi kelopak matanya.

Dan seseorang yang menggoreskan pisau tersebut….Bang Rangga?




Bersambung...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Share:

0 comments:

Post a Comment