Malam Minggu

Photograph _@mufly_dmphotograh
Locat: Taplau Padang


“Bang, aku cabut ya!”
Aku bergerak menuju rak sepatu dan memasang sepatu kate kesayanganku.
“Krrenyook…”
Hedeuh, perut gue keroncongan...”
Dipojok kiri ruang keluarga, lelaki setahun lebih tua dariku yang sedang asyik bermain game, tiba-tiba menghentikan gamenya dan memandangiku heran.
“Kenapa bang?” Aku mengerutkan kening dan melirik penampilanku. 

 
“Enggak.”
“Terus…” tanyaku bingung.
“Tumben aja...” Ia tersenyum kemudian melanjutkan permainannya.
“Tumben apanya bang?” aku berbalik heran.
“Sejak kapan kamu suka malam minggu dek.” Ungkapnya tanpa melirikku.
Aku terhenyak. Memangnya sekarang..? “Oh my God,...” Aku menepuk jidadku. Cepat-cepat aku melirik handpone dan melihat kalender. Tepat sekali. Hari ini hari sabtu. Dan beberapa jam lagi akan bergentayangan dengan malam yang dinamakan malam minggu.
Oh no..kenapa aku gak respect ya? Apa gara-gara frekuensi kelupaanku semakin meningkat? Atau karena terlalu lama menganggur jadi gak peka sama hari. Because everyday is Sunday.

Hmm..Aku menghela nafas. Di benakku tersimpan beberapa imajinasi tak menarik yang membuat aku semakin badmood. Oke. Jujur saja, sebenarnya aku tidak terlalu overhate banget sama yang namanya malam minggu. Karena bagiku everyday is sameday –setiap hari adalah hari yang sama- nothing special. Daaan sekarang, prinsip hidupku itu berakhir ketika teman-teman reseku merekomendasikanku secara ilegal menjadi miss-jomblo di setiap malam minggu gara-gara aku pernah kecoplosan bilang kalau “aku gak bakalan malming sama yang namanya cowok…”. Dan semenjak itu aku menjadi objek bullian temen grup chatku saat moment-moment malam minggu. Padahal, Cowok yang aku maksud adalah cowok yang belum halal bagiku. Inget! “Yang belum halal”. Karena kecoplosanku yang belum sempurna terucapkan itu langsung dipotong oleh teman-temanku yang rada-rada kurang waras, yah…jadi beginilah ending storynya.
Tuh kan! Belum lama dipikirin udah langsung heboh handpone gue.” Batinku.
Ping!

A: Malam minggu nih. Ehm..ehmm..
C: Widiih malaam mingguu. Udah dapet jodoh Ra?. Ups 
P: Haha. Jangan gitulah guys. Kasian. Nanti Jomblonya marah. Kan udah setia ama jomblo.
A: Hahaa!
Z: Issh, lo pada kelewatan ya. Kalau mau satnight, jangan ganggu org. Gue caw dulu nih. Cowok gue udah nungguin.
W: Yaela bilang aja lo mau pamer. Gue juga mau malming keles!
A: Gue nemenin Rara aja deh. Kasian.
P: Lo udah putus ama Franky belagu amat lo mau nemenin Rara.
A : Cowok gue keluar kota cuy!
P : Lagian Rara udah ada yang nemenin kog.
A : Siapa?
P : Si Jomblo. Haha
A : Hahaha!
“Sabar..” batinku sambil mengusap dada. Kata-kata mutiara yang selalu aku dapatkan di setiap malam minggu selalu berhasil membuat moodku lenyap. Aku pun membalas.
R: Sorry guys! Prinsip gue gak bakalan berubah. Pergi sono malmingan!
P: Prinsip? Apaan Ra?
A: Prinsip Rara itu “Gak bakalan malming sama yang namanya cowok..”
W: Wish. Gue salut ama lo Ra. Pertahankan ya Ra!
C: Gue juga mau kaya lo Ra. Tapi belum sanggup! Haha.
P: Lo mau kaya Rara Ci? Unbelieveble gue. Di tinggal Zio Bentar aja lo nangis.
Z: Sialan lo! Makanya gue bilang belum sanggup. Hahaha
P: Hahaha
Aku hanya membuang nafas melihat tingkah mereka. Aku tekan tomblo off  lalu ku masukkan handponeku ke dalam tas. Kubiarkan kicauan merdu dan tulisan indah merajalela mewarnai tawa mereka di grupchat malam ini. Namun, walau mereka rada-rada rese, sebenarnya mereka adalah teman yang baik. Hanya saja jiwa -ketidakwarasan- mereka kambuh ketika malam yang bernama malam minggu dan aku adalah obat yang paling mujarab dan ampuh untuk kesembuhan mereka.
Dan sebenarnya guys, jujur, -perkenalkan, gue Rara cewe 23 tahun yang baru sekitaran 8 bulanan ini ingin belajar menjadi muslimah yang baik seperti yang agamaku (islam) ajarkan padaku. Yah, pucuk manusia yang masih belajar ini dulunya juga seorang cewe yang rada-rada rese suka jadi leadernya tukang ngetawain temen-temen yang lain.
Dan mereka benar, saat ini aku memang benar-benar berprinsip demikian -gak bakalan malming sama yang namanya cowok-. Semenjak kejadian waktu menjelang persiapan wisuda, aku bertemu dengan seorang kakak cantik yang memakai kerudung syar’i. Yang biasanya aku dengar dengan sebutsn "akhwat". Tak sengaja kita bertemu di WRN’hijab store.
“Assalamu'alaikum. Mau beli jilbab juga ya?” Sapanya lembut. Aku tertegun. Wajahnya yang cantik dengan gamis menyelimuti seluruh tubuh hingga mata kaki membuat ia makin mempesona.
“Wa'alaykumussalam. Iya nih kak. Tapi bingung mau pilih yang mana?” jawabku salting.
“Emang mau dipakai buat acara apa dek?” ia tersenyum.
“Mau dipakai buat wisuda kak. Cuma bingung, paduan yang menarik sama gaun bagusnya warna apa ya kak? Aku pake gaun warna hijau toska.” Jawabku polos.Wajahnya yang teduh membungkam mulutku yang sedari tadi ngoceh karena mumet mikirin jilbab yang tak kunjung sesuai.
“Kalo kakak boleh saran, bagusnya adek pake jilbab warna pink lembut.” Ia memilah-milah jilbab dan mengambil jilbab yang ia minati. “Nah, yang ini cantik, dan elegan juga”. Ia memakaikan jilbab tersebut ke kepalaku. Aku hanya membisu menerima ia memakaikannya.
“Coba deh liat dicermin.” Ia tersenyum tulus. Aku tersipu. Ku langkahkan kaki menuju cermin besar yang berada ditoko tersebut.
“Waaah..” Lirihku. “Cantik banget kak.” .Gila, sekarang baru percaya. Ternyata gue manis juga loh? Aku memegang pipiku yang tak disadari sudah merah merona.
“Alhamdulillah...” jawab ia tersenyum.
Demi apa? Senyumannya yang mempesona mengalihkan perhatianku. Aku tak tahan lagi untuk diam dan tidak mengungkapkannya.
“Kak. Kakak kog cantik banget sih.” Aku mengungkapnya tanpa ragu.
“Hm?”
“Ditambah lagi kalau lagi senyum. Makin cantik.” Ungkapku juga tersenyum. “Cowok kakak pasti ganteng banget?”
“Haha.” Ia tertawa lepas. Dan lagi, ia semakin mempesona.
“Kog kakak ketawa?” tanyaku heran.
“Enggak. Kakak gak punya cowok dek.” Ia menggeleng dan mengusap punggungku lembut.
“Masa?” Aku tak percaya. “Cewek secantik kaka gak punya pacar rugi dong kak?” ungkapku datar.
Ia hanya menunduk dan tersenyum. Ada makna dibalik senyumannya.
“Kenapa kak?” ungkapku penasaran.
“Kalo kakak punya pacar, malahan kakak lebih rugi lagi dek.” Jawabnya dengan senyuman cantik yang tak jenuh aku melihatnya.
“Kanapa rugi kak?” tanyaku heran.
“Kalau kakak berikan kecantikkan kakak ini pada laki-laki yang belum tentu jadi suami kakak. Rugi dong dek. Udah si dianya asyik nikmatin, dosa kakak bertambah, kakaknya juga rusak.” Ia menghela nafas dan lagi-lagi tersenyum.
“Waah, kakaak. Kereen banget. Bener banget tuh kak!”. Mataku berkaca-kaca. Aku pun semakin mengaguminya.
“Aku juga mau kayak kakak. Tapi kak, Maaf. Masalahnya disini adalah kakak itu cantik. Putih. Banyak yang ngantri sama kakak walapun kakak gak tertarik sama mereka. Jadi mudah deh dapatin jodoh” Ungkapku jujur.
Ia kembali mengusap punggungku dan tersenyum “Jangan jadi seperti kakak, sayang.”
“Hm?” Ungkapku bingung. Kenapa gak boleh?
Ia pun melanjutkan ucapannya.
“Maksudnya, jadilah diri sendiri. Kamu itu manis sayang. Siapa bilang gak ada yang suka sama kamu? Ada kog.” jawab ia lembut.
“Siapa kak?” ungkapku penasaran.
“Suamimu nanti.” Ia tersenyum.
“Heh? Hmm..iya yah. Hehe” aku tersipu.
“Sejak lahir jodoh kamu udah dipilihkan untukmu kog sayang. Jadi gak usah khawatir. Jagalah diri dan berusahalah jadi yang terbaik. InshaAllah, jodohnya juga akan memberikan yang terbiak buat kamu.” Senyum indahnya kembali terpancar.
Aku luluh, namun...
“Percaya sih kak. Tapi gimana kita tau jodoh kita nanti kalo kita gak kenal mereka? Makanya kita harus kenal mereka dulu. Hm, lewat pacaran misalnya?”
“Adek kakak yang manis. Allah itu tau apa yang kita lakukan, sayang. Kakak mau jodoh yang baik, Kata Allah, kakak harus baik dulu baru Allah kasih laki-laki yang baik. Ketika kakak menjaga diri kakak dari semua laki-laki yang belum halal. Allah juga akan memberikan laki-laki yang menjaga dirinya dari semua wanita yang belum halal dan hatinya hanya untuk kakak seorang. Jatuh cinta itu fitrah, namun bagaimana cara mencintai itu pilihan kita sayang. Pacaran atau engganya, dia yang akan ditakdirkan untukmu bakal tetap akan jadi milikmu. disitulah letak ujian kepercayaan kita pada Allah. percaya ga kita kalo kita baik, Allah bakal kasih dia yang baik juga untuk kita.”
Aku tertegun. Tak bisa lagi mengungkapkan kata-kata. Jawabannya yang lembut menusuk relung hatiku yang paling dalam. Tak kusangka pertemuan singkat ini merubah meanest dan prinsip hidupku. Aku tersenyum dan memeluknya.
“Kaka. Boleh nanya satu hal lagi?” ungkapku malu.
“Boleh.” Ia menatapku lembut.
 “Laki-laki baik yang mencintai wanita itu seperti apa?”
“Laki-laki yang baik itu adalah laki-laki yang mencintaimu karena Allah. Ketika ia jatuh cinta padamu, ia tidak menyentuhmu dengan kata-kata manisnya, tidak mempermainkan hatimu dengan gombalan mautnya, melainkan berusaha mendatangi kedua orang tuamu dan meminta izin untuk menikahimu agar ia bisa mencintaimu seutuhnya.”
“So sweet banget.”
Kami pun tersenyum.
----------
“Dek…”
“Woi, Dek!”
“Astaga…” Aku terhenyak.
“Itu ngapain berdiri di pintu senyum-senyum sendiri?” si abang mengguyarkan lamunanku.
“Jadi gak pergi malmingnya?” Ia geleng-geleng kepala. “Apa karena efek gak pernah malam mingguan ya, adek gue jadi begitu?” ungkapnya berbisik pada dirinya sendiri.  
Dasar si abang rese.
“Abaang. aku bukannya mau malam mingguan!.” Kesalku. “Kebetulan aja sekarang hari sabtu dan aku lapar banget. Lagian, sekarang masih jam enam sore kog.” Aku merilik jam pingky kesayanganku.
“Iyaaa. Mau jam enam atau jam lima sore tetep aja yang namanya malam minggu ya hari ini dek.” Ia tertawa lirih. Dan lagi-lagi aku dibuat badmood olehnya.
“Whatever deh bang. Yang jelas aku lapar. Mau dinner. Bay!”


***


WRM’FOOD, 19.00 wib..
Setelah memarkirkan mobil aku melirik spion dan membetulkan jilbabku yang kusut usai shalat magrib di Mesjid Ar-rahmah. Setelah rapi aku langsung beranjak menuju lantai dua Cafe WRM’Food demi memenuhi penguasa perut yang tak kuasa menunggu kehadiran makanan. Aku menelusuri tangga hingga melewati tangga terakhir dilantai dua. Di penghujung tangga langkahku terhenti. Aku melirik ke seluruh ruangan mencari meja makan kosong. Namun, tak satupun aku temukan meja makan yang kosong. Semua terisi penuh oleh pengunjung resto. Beberapa detik kemudian, ada perasaan aneh yang menggeluti pikiranku. Hmm.. Apa ya?
Astaga…
Tanpa aku sadari, ternyata semua mata tertuju padaku. Bukan karena aku selebritis. Tetapi semua orang yang berada diruangan tersebut tidak satupun yang datang sendirian. Mereka datang bersama pasangannya masing-masing. Haduuhh. Beberapa dari mereka berbisik memandangiku. Dan aku salah tingkah dibuatnya.
Astaga Raraa..masa kamu lupa lagi kalau hari ini malam minggu? Ya jelaslah café-café pada penuh.
Aku segera mengambil handponeku dan berpura-pura mengecek sms yang jelas-jelas tidak ada satupun pesan yang masuk. Akupun bergegas menuju lantai satu. Sesampainya di lantai satu, aku menemukan meja kosong di sudut café yang mengarah ke taman belakang. Aku segera beranjak dan menempati meja tersebut.
“Ya Tuhaan,,baru kerasa kalo gue benar-benar jombloo…” ungkapku sambil mengusap kepalaku. 
“Ya tuhan, saking saltingnya gue ngejomblo jadi basah keringat gini?!” Aku mengambil tisu dan mengelap keringatku.
Seketika, si setan berkunjung ke alam pikiranku. Namun, aku berusaha mengusirnya dan menggelengkan kepalaku.
Gak boleh!! Ingat, Ra. Tuhan lagi liatin kamu berjuang. Kamu harus menjaga diri baik-baik. Biar dapat jodoh yang baik.
“Oke, Raa. Jangan berfikir yang bukan-bukan. Jom Makaan… perut lo udah pada demo.” Aku menegakkan punggungku dan mengusap-usap kedua telapak tangan. Berusaha mengusir bisikan-bisikan halus yang berkelahi dengan logikaku.

5 menit kemudian…
 “Haaduuh..kenapa waiternya kagak muncul-muncul ya?.” Aku mulai memegang perutku yang sudah tak kuasa lagi merengek-rengek padaku. “Apa terlalu sibuk melayani para ex-jomblo di lantai dua?” ungkapku kesal. 
Hadduuh, sensi banget yah gue hari ini. Sabar...
Tak lama kemudian pelayan resto berjalan melewatiku. Haa…Pucuk dicinta makananpun tiba.
“Mba..” aku mengacungkan tanganku. Namun si Mbaa tetap tak bergeming.
Eh, kog lewat  doang.
“Mbaak!!”  aku mengeraskan volume suaraku.
“Iya, Mbaa..” ia berbalik. Dan bergegas menuju mejaku.
“Saya mau pesan makanan.”
“Oh, maaf Mbaa. Mau pesan apa?” Ia mengulurkan menunya.
“Hmm..Saya mau pesaan…ChikhenGreat sama Vanila Float ya Mbaa.” Aku mengembalikan menu padanya.
“ Untuk berapa orang Mbaa?”
“Berapa orang…?” Jawabku bingung. Emangnya gue sama siap..? Aku melirik ke kanan dan kiriku.
“Ooh, maaf Nona. Saya fikir Nona lagi menunggu seseorang…”
Duarh. Aku terngangap.
“Maaf Nona, makanannya segera disajikan Nona. Permisi.” Ia bergegas menuju dapur.
Aku menghela nafas panjang. Aku mengusap-usap dadaku berusaha menahan agar nafasku beraktifitas normal.
Ya Tuhaan..
Sabar Raa, Tuhan tahu kamu lagi berjuang. Gak boleh emosi.
“Kalo kaya gini mending gue bikin Kafe Jomblo aja sekalian. Biar yang jomblo kagak kesepian.” Kesalku. Eh, tapi menarik juga bikin kafe begituan.
Bila yang tertulis olehNya, engkau yang terpilih untukku…” Nada Handpone miniku berdering. Aku bergegas mengambil tasku. kemudian ku lirik monitor hpku.
Abang?” Aku langsung menekan tombol oke.
“Assalamu’alyakum, Bang”
Waalaykumussalam.”
“Ada apa bang?”
Mama sama Papa udah balik. Pulang gih.”
“Mama udah Balik?” ungkapku sumringah.
Iyaa. Buruaan. Ntar kena marah mama abang gak tanggung jawab ya!.”
Kog? Kena marah?” tanyaku heran.
“Siapa suruh nyetir sendiri?”
“Astaga! Aku bawa mobil sendiri ya?” tanyaku linglung.
Makanya jangan marah-marah gak jelas trus nyelonong pergi aja?! Pokoknya cepet pulang. Klik.”
Abang..hallo. Tut,tuut.” Panggilan terputus.
“Ya Tuhaan. Lagi-lagi gue lupa kalo gue nggak boleh nyetir sendiri.” Aku buru-buru mengemaskan tasku dan berjalan menuju kasir.
“Mba. Makanan yang dipesan tadi di bungkus aja. “



***



Parkiran…
“Haduuh..gak bisa keluar. Gimana dong!” Ucapku gelisah. Tidak ada jalan keluar. Parkiran penuh. Aku berusaha mencari celah agar bisa keluar. Namun, tak satupun celah yang aku temukan. Gimana nih? Aku mencoba befikir.
“Aaah, aku telpon mama aja.” aku segera mengambil handponeku.
“Neng...”
“Astagfirullah!” Aku terkejut. Security tiba-tiba muncul dibalik kaca mobilku.
“Maaf neng, kaget ya?” jawab ia datar.
“Pak. Siapa yang gak kaget coba? Bapak muncul kayak jelangkung gitu.”
“Maaf neng.”
“Gapapa pak. Bisa tolong saya pak? Mobil saya gak bisa keluar nih ” Jawabku tanpa mengacuhkan permintaan maafnya. Yang jelas saat ini aku butuh pertolongannya.
“Eneng kesini sendirian?” 
Shit!
“waah, memang kenapa kalo sendirian? Gak boleh? Atau ini kafe dilarang jomblo? Harus pake pasangan? Gitu?!” emosiku tak terkontrol lagi. Security yang tadinya bermuka datar, langsung mengangkat alis.
“Waduh neng. Kog jawabnya gitu amat? Saya kan cuma nanya neng” jawab ia polos. Sepertinya security ini memang bertanya tulus. Ia terdiam.
Astagfirullahal’adzim. Saba Ra,,,security ini gak salah kog. Cuma kamunya aja yang sensi.
Ya Tuhaan, maafkan hambamu Tuhaan. Ujiannya baru segini doang gue udah nyerah.
Aku menarik nafas dalam dan membuangnya berlahan.
Keep istiqomah Ra, Allah tau kalau kamu lagi berjuang. sabaar...
 Aku melirik Om security yang hanya berdiam diri memperhatikanku. Tak berkutik. Mungkin takut jika ia salah ngomong, aku bakalan marah lagi.
“Maaf ya om, akunya lagi sensi Om. Agak darah tinggi hari ini.” ungkapku berusaha tersenyum.
“Waduh neng, kalo gitu gak boleh lama-lama disini.”
“Iya om, Tolongin keluarin mobil saya ya Om.” Aku memohon.
“Siap neng.” Tanpa berfikir panjang si Om secur langsung mengambil alih.


***
Tuhan, mungkin ini adalah ujian kelulusan.
Aku mengerti. Engkau ingin menguji seberapa teguh pendirian ini,
menjaga diri dari seseorang yang belum berhak aku miliki saat ini,
walaupun berat, aku akan bertahan dan akan aku jaga diri ini Tuhan, sampai Engkau pertemukan aku dengan orang yang tepat, diwaktu yang tepat, dan suasana yang tepat.
Karena aku percaya JanjiMu akan indah pada waktunya.
***
08.00 wib..
Setelah memakirkan mobil aku berjalan memasuki rumah. Tampak Accord silver dan HR-V sudah terparkir di halaman rumah.
“Yes..mama pulang.” Aku langsung melangkah menuju pintu yang terbuka lebar.
“Eits!.” Aku menghentikan langkahku. “Gawat. Aku kan nyetir mobil sendiri. Gimana ngomonginnya ke mama ya?” aku berfikir keras.
“Dek..”
“Astaga.” Tiba-tiba si abang nongol di depan pintu.
“Kalau ngagetin jangan setengah-setangah dong bang. Bikin emosi jiwa.”
“Lah? Abangkan manggilnya bisik-bisik.”
“Karena manggilnya bisik-bisik makanya emosi. Merinding nih bulu gue bang.” Aku mengusap-usap lenganku.
“Hehe. Yaudah lah. Masuk gih. Ditungguin mama sama papa tuh.” Ungkapnya berbisik mendekati gendang telingaku.
“Gak mesti berbisik juga kali bang.”
Abang mengangguk dan tersenyum.
“Kenapa senyum-senyum?” tanyaku sambil menunjuk muka sok gantengnya.
Ia tertawa lirih.
“Udahlah. Masuuk sana.” Ia menarik punggungku dengan telapak tangannya.
“Iya, iyaa..” aku melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
  Sesampai diruang tamu, tampak mama sedang duduk dikursi mendampingi papa dan…siapa itu?
Assalamu’alaykum, Ma, Pa.”
“Waalaykumussalam sayang, anak mama udah pulang.” Jawab mama tersenyum dan beranjak menghampiriku. Akupun mengecup punggung tangannya. Begitupun pada Papa. Disamping papa, seorang lelaki muda dengan kemeja hitam berparas teduh duduk dengan tenang tanpa melirikku.
Siapa dia? Kog ganteng...
Ups.
Jaga hatimu, Ra.. ingat belum mukhrm. Aku memalingkan wajah.
“Duduk Ra.” Tanpa basa-basi papa menyuruhku duduk.
“Iya pa.” Akupun menuruti.
“Ra, kenalin ini anaknya teman papa. Namanya Hasan Alfatih. Hasan ini lulusan Pascasarjana ITB, teknik industri. Sekarang ia bekerja diperusahaan yang sama dengan Papa. Udah CEO loh dianya. Anaknya pintar, sholeh juga.”
Deg.
Hasan Alfatih?
“Papa bilang ke Hasan kalo papa punya anak gadis yang tiga tahun lebih muda dari hasan. Terus beberapa bulan kemudian Hasan nanyain kamu. Hasan bilang ada yang mau diomongin sama kamu.” Ungkap papa menimpali. Papa menatap hasan dan mengangguk. Ia pun membalas anggukkan Papa dengan sopan.
“Salam kenal Rara. Saya Hasan...tujuan saya kesini adalah ingin melamarmu. Apakah Rara bersedia?” ia berkata tanpa keraguan.
Hah?
Aku terhenyak. Dan terdiam. Jantungku mengambil alih kendali. Deg deg.
Aku pun tak sanggup menjawab pertanyaannya. Jantungku berdegup kencang. Parasnya yang teduh dan menawan membungkam seluruh tubuhku, membiarkan jantungku bekerja sendirian.
Apakah ini mimpi?
Atau inikah jawabanMu, Tuhan?
Aku berusaha tenang, walapun wajahku tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Ku tarik nafas seteratur mungkin. Dan kuberanikan diri untuk bertanya padanya.
“H..mm.. Apakah hasan kenal Rara? Dan kenapa Hasan memilih Rara?” ungkapku gugup. Tak berani ku pandang wajahnya.
Ia tersenyum dengan tetap menundukkan pandangannya.
“Karena Rara adalah jawaban dari doa istikharahku.”
“Dan aku ingin mencintaimu seutuhnya.”

TAMAT
Share:

0 comments:

Post a Comment